MAKALAH “KH. ABDURAHMAN WAHID”
Dibuat
Untuk Melengkapi Tugas mata kuliah ke-NUan
Disusun
Oleh :
Adha
Anugrah Ibrahim
(19/FAM/155)
STIKES IBNU SINA
AJIBARANG
TAHUN 2020
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................
i
BAB I
PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1
Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah .............................................................................. 2
1.3
Tujuan ................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
................................................................................. 3-6
BAB III
PENUTUP ............................................................................................ 7
3.1
Kesimpulan ........................................................................................ 7
3.2
Saran .................................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “KH Abdurahman wahid” ini
tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari
penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari bapak Susanti pada mata kuliah ke-Nuan. Selain itu, makalah
ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang sosok KH Abdurahman wahid
bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih
kepada semua
pihak terkait yang telah membantu tugas ini sehingga dapat
menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Saya juga mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga
saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah
yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Purbalingga, 26 Maret
2020
BAB I
Pendahuluan
1.1
Latar
Belakang Masalah
Dr.(H.C.) K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab
disapa Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa
Timur, 7
September 1940 – meninggal di Jakarta, 30
Desember 2009 pada umur 69 tahun) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia
menggantikan Presiden B.J.
Habibie setelah
dipilih oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20
Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23
Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Abdurrahman Wahid
adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan
bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di
Denanyar Jombang, Jawa Timur dari
pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat
kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, tetapi kalender yang digunakan
untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir
pada 4 Sya'ban 1359 Hijriah, sama dengan 7 September 1940.
Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil.
"Addakhil" berarti "Sang Penakluk".[2] Kata
"Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid",
dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah
panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang"
atau "mas".
Gus Dur adalah putra pertama dari enam
bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas
Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul
Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren
pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid
Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun
1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok
Pesantren Denanyar Jombang. Saudaranya adalah Salahuddin
Wahid dan Lily Wahid.
Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri:
Alisa, Yenny, Anita, dan Inayah.
Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa
ia memiliki darah Tionghoa.[4] Abdurrahman
Wahid mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan
Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan
Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan
anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang
merupakan selir Raden Brawijaya V.[6] Tan
Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Prancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan
sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.
Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang
ke Jakarta,
tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua pertama Partai
Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi
yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang
saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal
17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama
perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.
Pada akhir perang tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk
sebagai Menteri Agama. Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS
sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Wahid juga diajarkan membaca buku
non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya.[7] Gus
Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak
menjadi menteri agama pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal
dunia akibat kecelakaan mobil.
Pendidikan Wahid berlanjut dan pada tahun 1954,
ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas.
Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk
meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada KH. Ali Maksum di Pondok
Pesantren Krapyak dan belajar di SMP. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP,
Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan. Muslim di Pesantren
Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan
pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun
1959, Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara
melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan
pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.
Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Majalah
Budaya Jaya.
1.2
Rumusan
Masalah
o
Bagaimana sosok Gusdur bisa menjadi
seorang yang agamis dan seorang politikus ?
o
Apakah kebijakan politik pada era KH
Abdurahman Wahid berpengaruh pada saat ini, terutama etnis Tionghoa?
o
Apakah KH Abdurahman Wahid bisa
disebut sebagai bapak pemersatu bangsa dengan ide ide briliannya saat menjabat
sebagai Presiden ke 4 RI?
o
Peran apakah yang dilakukan oleh
Gusdur terhadap organisai NU
1.3
Tujuan
Makalah
o
Mengetahui lebih dalam akan sosok KH
Abdurahman Wahid
o
Mengetahui ide ide pemikiran KH
Abdurahman Wahid sebagai tokoh nasional sekaligus tokoh agamis
o
Mengetahui peran aktif Gusdur
terhadap organisasi NU
Bab II
Pembahasan
Riwayat Pendidikan
Gus Dur kembali ke Jakarta mengharapkan bahwa
ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk belajar di Universitas McGill Kanada.
Ia membuat dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim
progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah Prisma dan
Gusdur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja
sebagai kontributor LP3ES,Gusdur juga berkeliling pesantren dan madrasah di
seluruh Jawa. Pada saat itu,pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari
pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Gusdur merasa prihatin
dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur
akibat perubahan ini. Gusdur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia
lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi
kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan
dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Gusdur memilih
batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.
Abdurrahman Wahid meneruskan kariernya sebagai
jurnalis,menulis untuk majalah dan surat kabar Artikelnya diterima dengan baik
dan ia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan
popularitas itu,ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan
seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat
Gusdur tinggal bersama keluarganya.
Meskipun memiliki karier yang sukses pada saat
itu, Gusdur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan ia
bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan
mengantarkan es. Pada tahun 1974 Gusdur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang
sebagai guru di Pesantren Tambakberas dan segera mengembangkan reputasi baik.
Satu tahun kemudian Wahid menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al
Hikam.
Pada tahun 1977, Gusdur bergabung ke Universitas Hasyim Asy'ari sebagai
dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam dan Universitas ingin agar Gusdur
mengajar subjek tambahan seperti syariat Islam dan misiologi. Namun
kelebihannya menyebabkan beberapa ketidaksenangan dari sebagian kalangan
universitas.
Nahdlatul Ulama
A.
Awal keterlibatan
Latar belakang keluarga Wahid segera berarti.
Ia akan diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan
ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik dan ia
dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasihat Agama NU. Namun,
Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri
Syansuri, memberinya tawaran ketiga. Karena mengambil pekerjaan ini, Wahid
juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana. Sebagai
anggota Dewan Penasihat Agama, Wahid memimpin dirinya sebagai reforman NU.
Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat
pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid
berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP),
sebuah Partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam
termasuk NU. Wahid menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan
menangkap orang seperti dirinya.[16] Namun,
Wahid selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting
seperti Jenderal Benny Moerdani.
B. Mereformasi NU
Pada saat itu, banyak orang yang memandang NU
sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan
Penasihat Agama akhirnya membentuk Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk
mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam
organisasi termasuk perubahan kepemimpinan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat
tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan
meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era
transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya
melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan. Pada 6 Mei 1982, Wahid
mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu ia berkata bahwa
permintaan mundur tidak konstitusionil. Dengan himbauan Wahid, Idham
membatalkan kemundurannya dan Wahid bersama dengan Tim Tujuh dapat
menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya.
Pada tahun 1983, Soeharto dipilih kembali
sebagai presiden untuk masa jabatan ke-4 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
dan mulai mengambil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai
Ideologi Negara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Wahid menjadi bagian dari
kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut.
Wahid berkonsultasi dengan bacaan seperti Quran dan Sunnah untuk
pembenaran dan akhirnya, pada Oktober 1983, ia menyimpulkan bahwa NU harus
menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan
kembali NU, Wahid juga mengundurkan diri dari PPP dan partai politik. Hal ini
dilakukan sehingga NU dapat fokus dalam masalah sosial daripada terhambat
dengan terlibat dalam politik.
C. Terpilih sebagai ketua NU dan masa jabatan pertama
Reformasi Wahid membuatnya sangat populer di
kalangan NU. Pada saat Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang mulai
menyatakan keinginan mereka untuk menominasikan Wahid sebagai ketua baru NU.
Wahid menerima nominasi ini dengan syarat ia mendapatkan wewenang penuh untuk
memilih para pengurus yang akan bekerja di bawahnya. Wahid terpilih sebagai
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional tersebut.
Namun, persyaratannya untuk dapat memilih sendiri para pengurus di bawahnya
tidak terpenuhi. Pada hari terakhir Munas, daftar anggota Wahid sedang dibahas
persetujuannya oleh para pejabat tinggi NU termasuk Ketua PBNU
sebelumnya, Idham Chalid. Wahid sebelumnya telah memberikan
sebuah daftar kepada Panitia Munas yang sedianya akan diumumkan hari itu.
Namun, Panitia Munas, yang bertentangan dengan Idham, mengumumkan sebuah daftar
yang sama sekali berbeda kepada para peserta Munas.
Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto dan
rezim Orde Baru.
Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya
menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Pada tahun 1985, Suharto
menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila. Pada tahun 1987, Abdurrahman
Wahid menunjukan dukungan lebih lanjut terhadap rezim tersebut dengan
mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar Suharto.
Ia kemudian menjadi anggota MPR mewakili Golkar. Meskipun ia disukai oleh
rezim, Wahid mengkritik pemerintah karena proyek Waduk Kedung
Ombo yang didanai oleh Bank Dunia. Hal
ini merenggangkan hubungan Wahid dengan pemerintah, tetapi saat itu Suharto
masih mendapat dukungan politik dari NU.
Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus
dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan
kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah
sekuler. Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di Probolinggo,
Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk
mendiskusikan dan menyediakan interpretasi teks Muslim. Gus Dur pernah
pula menghadapi kritik bahwa ia mengharapkan mengubah salam Muslim
"assalamualaikum" menjadi salam sekuler "selamat pagi".
D. Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru
Wahid terpilih kembali untuk masa jabatan kedua
Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989. Pada saat itu, Soeharto, yang terlibat
dalam pertempuran politik dengan ABRI, mulai menarik
simpati Muslim untuk mendapat dukungan mereka. Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
dibentuk untuk menarik hati Muslim Intelektual. Organisasi ini didukung oleh
Soeharto, diketuai oleh Baharuddin Jusuf Habibie dan di
dalamnya terdapat intelektual Muslim seperti Amien Rais dan Nurcholish
Madjid sebagai anggota. Pada tahun 1991, beberapa anggota ICMI
meminta Gus Dur bergabung. Gus Dur menolak karena ia mengira ICMI
mendukung sektarianisme dan akan membuat Soeharto
tetap kuat.[25] Pada
tahun 1991, Wahid melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi
yang terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial.
Organisasi ini diperhitungkan oleh pemerintah dan pemerintah menghentikan
pertemuan yang diadakan oleh Forum Demokrasi saat menjelang pemilihan
umum legislatif 1992.
Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan
Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan
dukungan NU terhadap Pancasila. Wahid merencanakan acara itu dihadiri oleh
paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi acara
tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika
mereka tiba di Jakarta. Akan tetapi, acara itu dihadiri oleh 200.000 orang.
Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa
NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan
toleran. Selama masa jabatan keduanya sebagai ketua NU, ide liberal Gus
Dur mulai mengubah banyak pendukungnya menjadi tidak setuju. Sebagai ketua, Gus
Dur terus mendorong dialog antar agama dan bahkan menerima undangan
mengunjungi Israel pada
Oktober 1994.
E. Masa jabatan ketiga dan menuju reformasi
Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur
menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga. Mendengar hal itu, Soeharto
ingin agar Wahid tidak terpilih. Pada minggu-minggu sebelum munas, pendukung
Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko berkampanye
melawan terpilihnya kembali Gus Dur. Ketika musyawarah nasional diadakan,
tempat pemilihan dijaga ketat oleh ABRI dalam tindakan
intimidasi. Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya.
Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga.
Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas yang besar dan
berencana tetap menekan rezim Soeharto. Wahid menasihati Megawati untuk
berhati-hati dan menolak dipilih sebagai Presiden untuk Sidang Umum MPR 1998.
Megawati mengacuhkannya dan harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markas
PDInya diambil alih oleh pendukung Ketua PDI yang didukung pemerintah,
Soerjadi.
Melihat apa yang terjadi terhadap Megawati, Gus
Dur berpikir bahwa pilihan terbaiknya sekarang adalah mundur secara politik
dengan mendukung pemerintah. Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu
pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU dan beberapa
bulan berikutnya diikuti dengan pertemuan dengan berbagai tokoh pemerintah yang
pada tahun 1994 berusaha menghalangi pemilihan kembali Gus Dur. Pada saat
yang sama, Gus Dur membiarkan pilihannya untuk melakukan reformasi tetap
terbuka dan pada Desember 1996 bertemu dengan Amien Rais,
anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.
Juli 1997 merupakan awal dari Krisis Finansial Asia. Soeharto mulai
kehilangan kendali atas situasi tersebut. Gus Dur didorong untuk melakukan
reformasi dengan Megawati dan Amien, tetapi ia terkena stroke pada
Januari 1998. Dari rumah sakit, Wahid melihat situasi terus memburuk dengan
pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden dan protes mahasiswa yang
menyebabkan terjadinya kerusuhan Mei 1998 setelah penembakan enam
mahasiswa di Universitas Trisakti. Pada tanggal 19 Mei
1998, Gus Dur, bersama dengan delapan pemimpin penting dari komunitas Muslim,
dipanggil ke kediaman Soeharto. Soeharto memberikan konsep Komite Reformasi
yang ia usulkan. Sembilan pemimpin tersebut menolak untuk bergabung dengan
Komite Reformasi. Gus Dur memiliki pendirian yang lebih moderat dengan Soeharto
dan meminta demonstran berhenti untuk melihat apakah Soeharto akan menepati
janjinya. Hal tersebut tidak disukai Amien, yang merupakan oposisi
Soeharto yang paling kritis pada saat itu. Namun, Soeharto mengumumkan
pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi
presiden menggantikan Soeharto.
Reformasi
A.
Pembentukan PKB
dan Pernyataan Ciganjur
Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah
pembentukan partai politik baru. Di bawah rezim Soeharto, hanya terdapat tiga
partai politik: Golkar, PPP dan PDI. Dengan jatuhnya Soeharto, partai-partai
politik mulai terbentuk, dengan yang paling penting adalah Partai Amanat Nasional (PAN) bentukan
Amien dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P)
bentukan Megawati. Pada Juni 1998, banyak orang dari komunitas NU meminta Gus
Dur membentuk partai politik baru. Ia tidak langsung mengimplementasikan ide
tersebut. Namun pada Juli 1998 Gus Dur mulai menanggapi ide tersebut karena
mendirikan partai politik merupakan satu-satunya cara untuk melawan Golkar
dalam pemilihan umum. Wahid menyetujui pembentukan PKB dan menjadi Ketua Dewan
Penasihat dengan Matori Abdul Djalil sebagai ketua partai.
Meskipun partai tersebut didominasi anggota NU, Gus Dur menyatakan bahwa partai
tersebut terbuka untuk semua orang.
Pada November 1998, dalam pertemuan di
Ciganjur, Gus Dur, bersama dengan Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubuwono
X kembali menyatakan komitmen mereka untuk reformasi. Pada 7
Februari 1999, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan
presiden.
B. Pemilu 1999 dan Sidang Umum MPR.
Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam
arena pemilu legislatif. PKB memenangkan 12% suara dengan PDI-P memenangkan 33%
suara. Dengan kemenangan partainya, Megawati diperkirakan akan
memenangkan pemilihan presiden pada
Sidang Umum MPR. Namun, PDI-P tidak memiliki kursi mayoritas penuh, sehingga
membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah,
koalisi partai-partai Muslim.[31] Poros
Tengah mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan
presiden dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.
Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara
resmi menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden.[32] Pada
19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie dan ia mundur
dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung,
ketua Golkar dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali
berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih
sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313
suara.
Tidak senang karena calon mereka gagal
memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati
harus terpilih sebagai wakil presiden. Setelah meyakinkan jenderal Wiranto untuk
tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan membuat PKB mendukung
Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta. Pada 21
Oktober 1999, Megawati ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan
mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.
Kepresidenan
Kabinet pertama Gus Dur, Kabinet Persatuan Nasional, adalah kabinet
koalisi yang meliputi anggota berbagai partai politik: PDI-P, PKB, Golkar, PPP,
PAN, dan Partai Keadilan (PK). Non-partisan dan TNI juga ada dalam kabinet
tersebut. Wahid kemudian mulai melakukan dua reformasi pemerintahan. Reformasi
pertama adalah membubarkan Departemen Penerangan, senjata utama rezim Soeharto
dalam menguasai media. Reformasi kedua adalah membubarkan Departemen Sosial
yang korup.
Pada November 1999, Wahid mengunjungi
negara-negara anggota ASEAN, Jepang, Amerika
Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania.
Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok. Setelah satu bulan berada dalam Kabinet
Persatuan Nasional,Menteri Koordinator Pengentasan Kemiskinan (Menko Taskin)
Hamzah Haz mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan November. Muncul dugaan
bahwa pengunduran dirinya diakibatkan karena Gus Dur menuduh beberapa anggota
kabinet melakukan korupsi selama ia masih berada di Amerika
Serikat. Beberapa menduga bahwa pengunduran diri Hamzah Haz diakibatkan
karena ketidaksenangannya atas pendekatan Gus Dur dengan Israel.
Rencana Gus Dur adalah memberikan Aceh
referendum. Namun referendum ini menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan
seperti referendum Timor Timur. Gus Dur juga ingin mengadopsi
pendekatan yang lebih lembut terhadap Aceh dengan mengurangi jumlah personel
militer di Negeri Serambi Mekkah tersebut. Pada 30 Desember, Gus Dur
mengunjungi Jayapura di provinsi Irian Jaya. Selama kunjungannya,
Abdurrahman Wahid berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia
mendorong penggunaan nama Papua.
A. Abdurrahman
Wahid di Forum Ekonomi Dunia tahun 2000.
Pada Januari 2000, Gus Dur melakukan perjalanan
ke luar negeri lainnya ke Swiss untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia dan mengunjungi Arab Saudi dalam
perjalanan pulang menuju Indonesia. Pada Februari, Wahid melakukan perjalanan
luar negeri ke Eropa lainnya dengan
mengunjungi Inggris, Prancis, Belanda, Jerman,
dan Italia.
Dalam perjalanan pulang dari Eropa, Gus Dur juga mengunjungi India, Korea Selatan, Thailand,
dan Brunei Darussalam. Pada bulan Maret, Gus Dur mengunjungi Timor Leste.
Di bulan April, Wahid mengunjungi Afrika
Selatan dalam perjalanan menuju Kuba untuk menghadiri
pertemuan G-77, sebelum kembali melewati Kota Meksiko dan Hong Kong.
Pada bulan Juni, Wahid sekali lagi mengunjungi Amerika, Jepang, dan Prancis
dengan Iran, Pakistan,
dan Mesir sebagai
tambahan baru ke dalam daftar negara-negara yang dikunjunginya.
Ketika Gus Dur berkelana ke Eropa pada bulan
Februari, ia mulai meminta Jenderal Wiranto mengundurkan
diri dari jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Gus Dur
melihat Wiranto sebagai halangan terhadap rencana reformasi militer dan juga
karena tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur terhadap Wiranto. Ketika Gus Dur
kembali ke Jakarta, Wiranto berbicara dengannya dan berhasil meyakinkan Gus Dur
agar tidak menggantikannya. Namun, Gus Dur kemudian mengubah pikirannya dan
memintanya mundur. Pada April 2000, Gus Dur memecat Menteri Negara
Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla dan
Menteri Negara BUMN Laksamana
Sukardi. Alasan yang diberikan Wahid adalah bahwa keduanya terlibat
dalam kasus korupsi, meskipun Gus Dur tidak pernah memberikan bukti yang
kuat. Hal ini memperburuk hubungan Gus Dur dengan Golkar dan PDI-P.
Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai
melakukan negosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan
kemudian, pemerintah menandatangani nota
kesepahaman dengan GAM hingga awal tahun 2001, saat kedua
penandatangan akan melanggar persetujuan. Gus Dur juga mengusulkan agar
TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.
Ia juga berusaha membuka hubungan dengan Israel, yang menyebabkan
kemarahan pada kelompok Muslim Indonesia. Isu ini diangkat dalam pidato
Ribbhi Awad, duta besar Palestina untuk Indonesia, kepada parlemen Palestina
tahun 2000. Isu lain yang muncul adalah keanggotaan Gus Dur pada Yayasan Shimon Peres.
Baik Gus Dur dan menteri luar negerinya Alwi Shihab menentang
penggambaran Presiden Indonesia yang tidak tepat, dan Alwi meminta agar Awad,
duta besar Palestina untuk Indonesia, diganti.
Dalam usaha mereformasi militer dan
mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik, Gus Dur menemukan sekutu,
yaitu Agus Wirahadikusumah, yang diangkatnya
menjadi Panglima Kostrad pada bulan Maret. Pada Juli 2000, Agus mulai
membuka skandal yang melibatkan Dharma Putra, yayasan yang memiliki hubungan
dengan Kostrad. Melalui Megawati, anggota TNI mulai menekan Wahid untuk
mencopot jabatan Agus. Gus Dur mengikuti tekanan tersebut, tetapi berencana
menunjuk Agus sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Petinggi TNI merespon dengan
mengancam untuk pensiun, sehingga Gus Dur kembali harus menurut pada tekanan.
Hubungan Gus Dur dengan TNI semakin memburuk
ketika Laskar Jihad tiba di Maluku dan dipersenjatai oleh TNI. Laskar Jihad pergi ke
Maluku untuk membantu orang Muslim dalam konflik dengan orang Kristen. Wahid
meminta TNI menghentikan aksi Laskar Jihad, tetapi mereka tetap berhasil
mencapai Maluku dan dipersenjatai oleh senjata TNI. Muncul pula dua skandal
pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate. Pada bulan Mei, Badan Urusan Logistik (Bulog)
melaporkan bahwa $4 juta menghilang dari persediaan kas Bulog. Tukang pijit
pribadi Gus Dur mengklaim bahwa ia dikirim oleh Gus Dur ke Bulog untuk
mengambil uang.[47] Meskipun
uang berhasil dikembalikan, musuh Gus Dur menuduhnya terlibat dalam skandal
ini. Skandal ini disebut skandal Buloggate. Pada waktu yang sama, Gus Dur juga
dituduh menyimpan uang $2 juta untuk dirinya sendiri. Uang itu merupakan
sumbangan dari Sultan Brunei untuk membantu di Aceh. Namun, Gus Dur gagal
mempertanggungjawabkan dana tersebut. Skandal ini disebut skandal Bruneigate.
Sidang Umum MPR 2000 hampir tiba, popularitas
Gus Dur masih tinggi. Sekutu Wahid seperti Megawati, Akbar dan Amien masih
mendukungnya meskipun terjadi berbagai skandal dan pencopotan menteri. Pada
Sidang Umum MPR, pidato Gus Dur diterima oleh mayoritas anggota MPR. Selama
pidato, Wahid menyadari kelemahannya sebagai pemimpin dan menyatakan ia akan
mewakilkan sebagian tugas. Anggota MPR setuju dan mengusulkan agar
Megawati menerima tugas tersebut. Pada awalnya MPR berencana menerapkan usulan
ini sebagai TAP MPR, akan tetapi Keputusan Presiden dianggap sudah cukup. Pada
23 Agustus, Gus Dur mengumumkan kabinet baru meskipun Megawati ingin pengumuman
ditunda. Megawati menunjukan ketidaksenangannya dengan tidak hadir pada
pengumuman kabinet. Kabinet baru lebih kecil dan meliputi lebih banyak
non-partisan. Tidak terdapat anggota Golkar dalam kabinet baru Gus Dur.
Pada September, Gus Dur menyatakan darurat
militer di Maluku karena kondisi di sana semakin memburuk. Pada
saat itu semakin jelas bahwa Laskar Jihad didukung oleh anggota TNI dan juga
kemungkinan didanai oleh Fuad Bawazier, menteri keuangan terakhir Soeharto.
Pada bulan yang sama, bendera bintang kejora berkibar di Papua Barat. Gus Dur
memperbolehkan bendera bintang kejora dikibarkan asalkan berada di bawah
bendera Indonesia. Ia dikritik oleh Megawati dan Akbar karena hal ini.
Pada 24 Desember 2000, terjadi serangan bom terhadap gereja-gereja di
Jakarta dan delapan kota lainnya di seluruh Indonesia.
Pada akhir tahun 2000, terdapat banyak elit
politik yang kecewa dengan Abdurrahman Wahid. Orang yang paling menunjukan
kekecewaannya adalah Amien. Ia menyatakan kecewa mendukung Gus Dur sebagai
presiden tahun lalu. Amien juga berusaha mengumpulkan oposisi dengan meyakinkan
Megawati dan Gus Dur untuk merenggangkan otot politik mereka. Megawati
melindungi Gus Dur, sementara Akbar menunggu pemilihan umum legislatif tahun
2004. Pada akhir November, 151 anggota DPR menandatangani petisi yang
meminta pemakzulan Gus Dur.
B. 2001 dan akhir kekuasaan
Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan
bahwa Tahun Baru Imlek menjadi hari libur
opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf
Tionghoa. Gus Dur lalu mengunjungi Afrika Utara dan juga Arab Saudi untuk naik
haji. Abdurrahman Wahid melakukan kunjungan terakhirnya ke luar negeri
sebagai presiden pada Juni 2001 ketika ia mengunjungi Australia.
Pada pertemuan dengan rektor-rektor universitas pada 27 Januari 2001, Gus Dur
menyatakan kemungkinan Indonesia masuk kedalam anarkisme.
Ia lalu mengusulkan pembubaran DPR jika hal tersebut terjadi. Pertemuan
tersebut menambah gerakan anti-Wahid. Pada 1 Februari, DPR bertemu untuk
mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Nota tersebut berisi diadakannya Sidang
Khusus MPR di mana pemakzulan Presiden dapat dilakukan. Anggota PKB hanya
bisa walk out dalam menanggapi hal ini. Nota ini juga
menimbulkan protes di antara NU. Di Jawa Timur, anggota NU melakukan protes di
sekitar kantor regional Golkar. Di Jakarta, oposisi Gus Dur turun menuduhnya
mendorong protes tersebut. Gus Dur membantah dan pergi untuk berbicara dengan
demonstran di Pasuruan. Namun, demonstran NU terus menunjukkan dukungan
mereka kepada Gus Dur dan pada bulan April mengumumkan bahwa mereka siap untuk
mempertahankan Gus Dur sebagai presiden hingga mati.
Pada bulan Maret, Gus Dur mencoba membalas
oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi
Manusia Yusril Ihza Mahendra dicopot dari
kabinet karena ia mengumumkan permintaan agar Gus Dur mundur. Menteri
Kehutanan Nurmahmudi Ismail juga dicopot dengan
alasan berbeda visi dengan Presiden, berlawanan dalam pengambilan kebijakan,
dan diangap tidak dapat mengendalikan Partai
Keadilan, yang pada saat itu massanya ikut dalam aksi menuntut
Gus Dur mundur. Dalam menanggapi hal ini, Megawati mulai menjaga jarak dan
tidak hadir dalam inaugurasi penggantian menteri. Pada 30 April, DPR
mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang Istimewa MPR pada 1
Agustus. Gus Dur mulai putus asa dan meminta Menteri Koordinator Politik,
Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono untuk
menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya
dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet
pada tanggal 1 Juli 2001.
Akhirnya pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan
bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000
tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara
sebagai bentuk penunjukan kekuatan. Gus Dur kemudian mengumumkan
pemberlakuan dekret yang
berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2)
mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu
satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar[59] sebagai
bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekret tersebut tidak
memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan
menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri. Abdurrahman Wahid
terus bersikeras bahwa ia adalah presiden dan tetap tinggal di Istana Negara
selama beberapa hari, tetapi akhirnya pada tanggal 25 Juli ia pergi ke Amerika
Serikat karena masalah kesehatan.
Aktivitas setelah
kepresidenan
A.
Perpecahan pada
tubuh PKB
Sebelum Sidang Khusus MPR, anggota PKB setuju
untuk tidak hadir sebagai lambang solidaritas. Namun, Matori Abdul Djalil, ketua PKB, bersikeras
hadir karena ia adalah Wakil Ketua MPR. Dengan posisinya sebagai Ketua Dewan
Syuro, Gus Dur menjatuhkan posisi Matori sebagai Ketua PKB pada tanggal 15
Agustus 2001 dan melarangnya ikut serta dalam aktivitas partai sebelum akhirnya
mencabut keanggotaan Matori pada bulan November.[62] Pada
tanggal 14 Januari 2002, Matori mengadakan Munas Khusus yang dihadiri oleh
pendukungnya di PKB. Munas tersebut memilihnya kembali sebagai ketua PKB. Gus
Dur membalasnya dengan mengadakan Munasnya sendiri pada tanggal 17 Januari,
sehari setelah Munas Matori selesai[63] Musyawarah
Nasional memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Dewan Penasihat dan Alwi Shihab sebagai
Ketua PKB. PKB Gus Dur lebih dikenal sebagai PKB Kuningan sementara PKB Matori
dikenal sebagai PKB Batutulis.
B. Pemilihan umum 2004
Pada April 2004, PKB berpartisipasi dalam Pemilihan
Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Indonesia 2004, memperoleh 10.6%
suara. Untuk Pemilihan
Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004, di mana rakyat akan
memilih secara langsung, PKB memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus
Dur gagal melewati pemeriksaan medis sehingga Komisi Pemilihan Umum menolak
memasukkannya sebagai calon. Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan
pasangan dari Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam
pemilu. Untuk pemilihan kedua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan
Megawati-Muzadi, Gus Dur menyatakan golput.
C. Oposisi terhadap pemerintahan SBY
Pada Agustus 2005, Gus Dur menjadi salah satu
pemimpin koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu.
Bersama dengan Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan
Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono, terutama mengenai pencabutan subsidi BBM yang akan menyebabkan
naiknya harga BBM.
Kehidupan pribadi
Wahid menikah dengan Sinta Nuriyah dan
dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zannuba
Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah
Wulandari. Yenny juga aktif berpolitik di Partai Kebangkitan Bangsa dan saat
ini adalah direktur The Wahid Institute.
Kematian
Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat
sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga sering kali surat
dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh
orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan stroke. Diabetes dan
gangguan ginjal juga
dideritanya. Ia meninggal dunia pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta,
pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya
sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci
darah) rutin. Menurut Salahuddin
Wahid adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri.
Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai
mengadakan perjalanan di Jawa Timur
Penghargaan
Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan
yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership.
Wahid dinobatkan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa
tokoh Tionghoa Semarang di
Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai
kawasan Pecinan pada
tanggal 10 Maret 2004.
Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiesenthal
Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi
Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka
ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Gus Dur
memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los
Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah
satunya dalam membela umat beragama Konghucu di
Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru. Wahid
juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai
nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study. Pada
21 Juli 2010, meskipun telah meninggal, ia memperoleh Lifetime
Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010. Penghargaan ini
diserahkan langsung kepada Sinta Nuriyah, istri Gus Dur.
a) Tasrif Award-AJI
Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan
Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai
Pejuang Kebebasan Pers 2006. Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam
memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan
demokrasi di Indonesia. Gus Dur dan Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri
dari budayawan Butet Kertaradjasa, pemimpin redaksi The Jakarta
Post Endy Bayuni, dan
Ketua Komisi Nasional Perempuan Chandra Kirana. Mereka
berhasil menyisihkan 23 kandidat lain. Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur
menuai protes dari para wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers
itu. Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena upaya Gus Dur
menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima penghargaan tersebut.
Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti, mantan Ketua
Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta
Post membantah dan mempertanyakan hubungan perjuangan Wahid
menentang RUU APP dengan kebebasan pers.
b) Doktor kehormatan
Gus Dur juga banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris
Causa) dari berbagai lembaga pendidikan:
·
Doktor Kehormatan
bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)
·
Doktor Kehormatan dari
Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
·
Doktor Kehormatan
bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora
dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Prancis (2000)
·
Doktor Kehormatan
dari Universitas Chulalongkorn,
Bangkok, Thailand (2000)
·
Doktor Kehormatan
dari Universitas Twente, Belanda (2000)
·
Doktor Kehormatan dari
Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)
·
Doktor Kehormatan dari
Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)
·
Doktor Kehormatan
bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)
·
Doktor Kehormatan
bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)
·
Doktor Kehormatan dari
Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003)
Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
http://www.dailynews.gov.bw/news-details.php%3Fnid%3D54068&prev=search
diakses tgl 26/03/20
https://www.voanews.com/science-health/coronavirus-outbreak/botswana-no-covid-19-cases-closes-borders-after-death-zimbabwe
diakses tgl 26/03/20
https://id.wikipedia.org/wiki/Botswana
diakses tgl 26/03/20
https://kemlu.go.id/pretoria/id/read/botswana/2559/etc-menu
diakses tgl 26/03/20
https://safetravel.id/info/detail/33
diakses tgl 26/03/20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar